Jorge
Lorenzo mengatakan: "Ini adalah mimpi saya, masih merasa seperti
terbang di langit! Saya sangat senang merayakan gelar MotoGP kedua di
Indonesia. Saya berharap akan ada pembalap Indonesia di kejuaraan dunia
lagi." Amin...
Itu ungkapan Lorenzo waktu merayakan gelar juaranya di Indonesia weekend kemarin bro sis :)
YAMAHA RACING INDONESIA
Sabtu, 03 November 2012
Selasa, 30 Oktober 2012
welcome to Indonesia
Di bawah terik matahari, Lorenzo melahap delapan lap dengan diikuti oleh 20 pembalap muda lokal dan 13 biker yang dibagi dalam empat sesi. Sesi pertama untuk 10 pembalap muda pertama, dilanjutkan 10 pembalap muda lainnya. Dan dua sesi lagi untuk para biker. Disamping itu, Lorenzo juga ditemani oleh pemalap Indonesia, Doni Tata.
Menurut Doni, Lorenzo diakui terlihat kagok atau gugup menggunakan motor berteknologi injeksi ini. Karena menggunakan motor tersebut, Lorenzo harus disibukkan dengan pergantian gigi di setiap waktunya. Ya, tentunya berbeda dengan menggunakan motor yang digunakannya di ajang MotoGP.
"Awalnya dia terlihat gugup bahkan melaju motornya dengan kencang karena biasa menggeber dengan cepat, tapi setelah saya beritahu dia agar jangan terlalu cepat. Dia mulai menyadarinya," ucap Doni Tata saat diwawancarai wartawan.
Lorenzo sendiri mengakui kalau ia sempat kebingungan saat mengendarai All New Jupiter Z1. "Motor ini nyaman untuk dikendarai, meski saya agak bingung dengan settingan dalam mengoper gigi" ucap Lorenzo saat konferensi pers di hotel Lorin Sentul.
Ini merupakan keenam kalinya Lorenzo datang ke Indonesia. Sedangkan pada tahun ini sudah dua kali dia menyambangi basis terbesar konsumen Yamaha ini. Setelah acara Fun Ride dan Konferensi Pers, pembalap berjuluk X Fuera ini akan menghadiri gala dinner bersama 300 costumer Yamaha Jupiter Z1.
Meski Cemas, Sang Ibu Selalu Dukung Lorenzo
Jorge Lorenzo Guerrero (Foto: Yamaha) Aksi menegangkan Jorge Lorenzo di lintasan balap, tentunya membuat sang ibu khawatir. Meski begitu, profesi anaknya yang berbahaya ini ternyata mendapat dukungan dari keluarganya.
Lorenzo sudah menggeluti dunia balap profesional sejak 2002 silam. Tentunya itu bukan perkara mudah bagi sang ibu, jikalau buah hatinya berpacu dalam kecepatan tinggi di aspal. Lorenzo tahu itu dan dia juga tak jarang curhat kepada ibunya tentang balapan, sebelum atau sesudah membalap.
"Saya selalu membicarakan kepada ibu mengenai profesi saya. Ibu saya berpesan untuk mengemudikan kendaraan dengan berhati-hati. Ibu saya juga memberikan dukungan kepada saya saat membalap," ucap Lorenzo, saat ditanyai wartawan.
Berangkat dari kelas 125 cc pada tahun 2002 silam, Lorenzo sempat merasakan juara dunia kelas 250cc selama dua kali pada tahun (2006-2007) bersama tim asal Italia, Aprilia. Berkat prestasinya itu, dia pun langsung naik level ke kelas MotoGP pada tahun 2008.
Dikontrak dengan Yamaha, pembalap berjuluk X-Fuera ini berhasil menjadi juara dunia MotoGP pada tahun 2010 untuk pertama kalinya. Impian pembalap 25 tahun itu untuk mempertahankan gelar, sempat digagalkan oleh Casey Stoner pada tahun 2011.
Tapi pada musim 2012, tepatnya di Phillip Island, Lorenzo kembali merebut juara dunia itu. Meski sudah meraih dua gelar juara dunia, tak membuatnya puas. Dia masih memiliki ambisi lainnya, karena tantangan juga akan datang dari pembalap baru.
"Saya selalu memiliki ambisi untuk meraih sukses. Ke depan akan banyak pembalap MotoGP yang menjadi saingan, tetapi saya akan meningkatkan kemampuan bertanding untuk meraih gelar juara. Saya berharap semoga banyak pebalap elit dunia yang lahir dari ajang MotoGP,"
Jorge Lorenzo Jadi Instruktur Yamaha Riding Academy
Yamaha Riding Academy (YRA) diadakan lagi selama empat hari, 29
Oktober sampai 1 November di sirkuit Gokart Sentul dan Cibinong dirt
track. Istimewanya YRA kali ini, 20 pesertanya ikut fun ride dan
coaching clinic bersama Jorge Lorenzo.Pebalap tim MotoGP Yamaha itu, yang baru saja memastikan diri jadi juara dunia MotoGP 2012, akan membagi ilmunya buat 20 pebalap Yamaha usia U-17 yang merupakan pebalap-pebalap pemula dari daerah, tetapi berprestasi nasional.
"Pebalap-pebalap muda ini adalah calon-calon penerus Jorge Lorenzo. Mereka punya mimpi ingin seperti Lorenzo jadi kami memberikan kesempatan emas bertemu dan mendapatkan ilmu dari dia. Selain itu ada instruktur-instruktur berpengalaman yang membagikan ilmu teori dan praktek sebagai bahan pelatihan dan pembibitan pebalap muda di YRA,” jelas Supriyanto, Manajer Motorsport Yamaha Indonesia.
Salah satu peserta YRA yang hadir adalah Tammy Pratama dari Jawa Barat yang tahun ini menjuarai Motoprix kelas MP3 (Bebek 4 Tak 125 cc Tune Up Pemula) dan MP2 (Bebek 4 Tak 110 cc Tune Up Pemula). Yang juga cukup dikenal Agung Didu, peserta termuda YRA usianya 9 tahun. Agung berdarah Makassar dan tampil di Yamaha Cup Race (YRA) dan Motoprix.
20 peserta YRA menggunakan V-Ixion dan Yamaha TTR 125R. Mereka mendapatkan pelatihan praktek dan pengetahuan teori yang diajarkan enam instruktur Indonesia. Tiga pebalap Supersport Yamaha, Doni Tata, Dimas Ekky dan Rafid Topan. Johnny Pranata sebagai instruktor pelatihan motorcross, motivator Dimas Prast dan pelatihan fisik oleh Gandung Darmoko.
Materi yang diajarkan dalam YRA kali ini meliputi pengenalan karakteristik sirkuit permanen menggunakan sportbike, untuk mengetahui tingkat kebugaran fisik pebalap, rolling speed, teknik start dan simulasi race. Sementara untuk materi basic dasar motocross diantaranya basic dasar motocross (riding position, handling dan sliding), dirt track contest (short track dan long track) serta mini dirt race (clockwise dan counter clockwise).
Termasuk pengenalan karakteristik sirkuit permanen; mengetahui tingkat kebugaran fisik pebalap, rolling speed, QTT dan simulasi race; semua materi yang berhubungan dengan dunia balap, mulai racing management, gizi dan nutrisi, communications skill dan product knowledge.
Diajarkan juga materi basic dasar motocross dengan bahan ajaran pengetahuan mengenai beberapa teknik dasar dirt bike diantaranya basic dasar motocross yaitu riding position, handling dan sliding; dirt track contest meliputi short track dan long track; mini dirt race (clockwise dan counter clockwise).
Sumber :
BERSAMA YAMAHA MENUJU PENTAS DUNIA
Tamy
Pratama, pebalap tim Yamaha Yamalube KYT SND asal Jawa Barat, berhasil
mengawinkan dua gelar juara dalam seri 7 Yamaha Cup Race di Sirkuit Tiga
Raksa, Tangerang. Tamy yang masih berusia 17 tahun, dan saat ini
membalap di kelas pemula,
menunjukan performa terbaiknya dengan menjadi juara di kelas bebek 4 tak TU 125cc (MP3) dan 110cc (MP4).
Meski mendapatkan perlawanan sengit dari pesaing-pesaing terdekatnya seperti R. Fadhil, Riko Pranata, maupun Angga PA, Tamy tetap berhasil memenangi pertarungan. Bahkan di kelas MP4, ia melesat ke depan meninggalkan pebalap lainnya yang sibuk memperebutkan tempat kedua dan ketiga.
Sementara itu, Anggi Permana (Yamaha Trijaya), berhasil menduduki puncak podium kelas bebek 4 tak TU 125cc seeded (MP1). Florianus Roy (Yonk Jaya), pesaing terdekat Anggi di kelas ini harus puas menjadi juara kedua. Roy sendiri membalap dalam kondisi cedera pada tangan, yang ia alami akibat terjatuh pada pagi harinya.
Baik Anggi maupun Roy tidak cukup beruntung di kelas bebek 4 tak TU 110cc (MP2), di mana keduanya sama-sama tidak berhasil menyelesaikan finish di race 1. Keadaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh pebalap muda usia Yoga Adi Pratama yang kemudian merangsek ke depan dan berhasil menjadi juara untuk kelas bebek 4 tak TU 110cc seeded (MP2). Jika saja Anggi berhasil finish, bisa jadi ia juga berhasil mengawinkan dua podium juara seperti Tamy di kelas pemula.
Setelah seri 7 ini, Yamaha Cup Race akan hadir kembali dalam seri Grand Final di kota Yogyakarta, pada 2 Desember 2012. Pebalap-pebalap muda terbaik Yamaha dari seluruh Indonesia akan mengadu kecepatannya di kota Gudeg untuk membuktikan siapa yang layak jadi jawara berikutnya.
menunjukan performa terbaiknya dengan menjadi juara di kelas bebek 4 tak TU 125cc (MP3) dan 110cc (MP4).Meski mendapatkan perlawanan sengit dari pesaing-pesaing terdekatnya seperti R. Fadhil, Riko Pranata, maupun Angga PA, Tamy tetap berhasil memenangi pertarungan. Bahkan di kelas MP4, ia melesat ke depan meninggalkan pebalap lainnya yang sibuk memperebutkan tempat kedua dan ketiga.
Sementara itu, Anggi Permana (Yamaha Trijaya), berhasil menduduki puncak podium kelas bebek 4 tak TU 125cc seeded (MP1). Florianus Roy (Yonk Jaya), pesaing terdekat Anggi di kelas ini harus puas menjadi juara kedua. Roy sendiri membalap dalam kondisi cedera pada tangan, yang ia alami akibat terjatuh pada pagi harinya.
Baik Anggi maupun Roy tidak cukup beruntung di kelas bebek 4 tak TU 110cc (MP2), di mana keduanya sama-sama tidak berhasil menyelesaikan finish di race 1. Keadaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh pebalap muda usia Yoga Adi Pratama yang kemudian merangsek ke depan dan berhasil menjadi juara untuk kelas bebek 4 tak TU 110cc seeded (MP2). Jika saja Anggi berhasil finish, bisa jadi ia juga berhasil mengawinkan dua podium juara seperti Tamy di kelas pemula.
Setelah seri 7 ini, Yamaha Cup Race akan hadir kembali dalam seri Grand Final di kota Yogyakarta, pada 2 Desember 2012. Pebalap-pebalap muda terbaik Yamaha dari seluruh Indonesia akan mengadu kecepatannya di kota Gudeg untuk membuktikan siapa yang layak jadi jawara berikutnya.
Doni Tata akrab dengan Lorenzo
Doni
Tata cukup dekat dengan Jorge Lorenzo. Sebagai sesama pebalap Yamaha
yang sering terlibat kegiatan bersama dan usia sebaya, Lorenzo 25 tahun
dan Doni 21 tahun, wajar Lorenzo selalu mengenalinya dengan baik saat
bertemu.
Ternyata, Lore
Ternyata, Lore
nzo punya
panggilan sayang buat Doni. Terakhir Doni bertemu temannya sang juara
dunia MotoGP 2010 itu di sirkuit Sepang saat seri MotoGP Malaysia
berlangsung pekan lalu.
"Dia sapa aku 'Hallo Pradita. Apa kabar? Sekarang balapan di mana?' Aku jawab di Asia dan kejuaraan Qatar," ucap Doni, seperti ditulis Kompasianer Hyacintha Bonafacia, Sabtu (27/10/2012). Pradita adalah panggilan Lorenzo buat Doni. Seperti panggilan sayang ya dan memang kebiasaan di luar menyapa dengan nama terakhir seseorang. Pradita nama terakhir Doni Tata.
Di luar paddock keduanya sempat bicara meski hanya sebentar. Doni bertanya soal kedatangan Lorenzo ke Jakarta. "Aku tanya tentang dia mau ke sini dan bilang sukses buat kamu di Sepang dan semoga juara dunia," sebut Doni.
Di Sepang Doni bertemu teman-teman lama lainnya asal Jerman yang sempat bersama setim saat dia membalap di 250 cc Grand Prix World Championship. Karel Abraham masih ingat Doni dan Cal Crutchlow pun menyapanya. Rupanya pebalap-pebalap dunia masih ingat Doni.
"Dia sapa aku 'Hallo Pradita. Apa kabar? Sekarang balapan di mana?' Aku jawab di Asia dan kejuaraan Qatar," ucap Doni, seperti ditulis Kompasianer Hyacintha Bonafacia, Sabtu (27/10/2012). Pradita adalah panggilan Lorenzo buat Doni. Seperti panggilan sayang ya dan memang kebiasaan di luar menyapa dengan nama terakhir seseorang. Pradita nama terakhir Doni Tata.
Di luar paddock keduanya sempat bicara meski hanya sebentar. Doni bertanya soal kedatangan Lorenzo ke Jakarta. "Aku tanya tentang dia mau ke sini dan bilang sukses buat kamu di Sepang dan semoga juara dunia," sebut Doni.
Di Sepang Doni bertemu teman-teman lama lainnya asal Jerman yang sempat bersama setim saat dia membalap di 250 cc Grand Prix World Championship. Karel Abraham masih ingat Doni dan Cal Crutchlow pun menyapanya. Rupanya pebalap-pebalap dunia masih ingat Doni.
Senin, 22 Oktober 2012
ayo gabung bersama yamaha menuju pentas dunia

Bersama yamaha menuju pentas dunia
Tidak dipungkiri jika banyak anak muda Indonesia yang menggandrungi dunia otomotif, khususnya balap motor. Keinginan untuk menjadi pebalap juga bisa dibilang cukup besar. Bisa kita lihat dengan makin banya
Tidak dipungkiri jika banyak anak muda Indonesia yang menggandrungi dunia otomotif, khususnya balap motor. Keinginan untuk menjadi pebalap juga bisa dibilang cukup besar. Bisa kita lihat dengan makin banya
knya pebalap pemula yang mengikuti ajang balap motor di Indonesia khususnya Yamaha Cup Race dan besarnya animo masyarakat untuk menonton langsung. Usia para pebalap pemula juga semakin muda, sebut saja Agung Didu yang mengukuhkan diri sebagai pebalap termuda di Indonesia yang memulai karir di usia 7 tahun, mengalahkan rekor Doni Tata di usia 9 tahun. Meski begitu, mengingat tidak ada kata terlambat, yang berusia belasan tahun pun tetap bersemangat untuk memulai karir balap mereka, dan mendominasi kelas pemula.
Sayangnya, tidak semua anak muda memacu motornya di jalan yang benar. Balapan liar kadang menjadi ajang yang ditempuh bagi sebagian penggemar adu cepat. Hal ini mungkin dikarenakan minimnya pengetahuan dan pengarahan akan dunia balap dari lingkungan di sekitarnya. Akses yang terbatas tersebut membuat sebagian memilih jalan pintas, apalagi balap liar biasanya tumbuh dalam komunitas-komunitas, sehingga nampak keren buat yang ingin eksis di lingkungannya.
Merespon hal tersebut, Yamaha Cup Race berusaha memposisikan diri sebagai wadah bagi potensi-potensi muda tersebut. “Yamaha Cup Race juga mengusung program CSR yang mana hal ini sebagai wadah menampung dan memberikan kesempatan para penggemar balap untuk unjuk diri. Yamaha Cup Race juga bertujuan untuk mengurangi kegiatan balap liar yang selama ini ada. Balapan yang benar ada lintasan sirkuit, bukan di jalanan” ungkap Ari Wibisono Manager Yamaha Racing. Perkataan Ari terbukti saat sejumlah seri Yamaha Cup Race lalu membuka kelas khusus pembalap liar dan memberikan potongan uang pendaftaran.
Untuk itu kami mengajak anak muda yang memiliki keinginan untuk berkecimpung di
arena balap agar berusaha mendapatkan informasi yang tepat, berlatih dengan tekun, bergabung dengan team berpengalaman dan mengikuti ajang balap bergengsi, semacam Yamaha Cup Race, event balap bangkotan dan sarat pengalaman di Indonesia. Saat ini, Yamaha Cup Race bahkan sudah membuka pendaftaran secara online
http://www.yamaharacingindonesia.co.id/pendaftaran/pendaftaran-balap/
Sayangnya, tidak semua anak muda memacu motornya di jalan yang benar. Balapan liar kadang menjadi ajang yang ditempuh bagi sebagian penggemar adu cepat. Hal ini mungkin dikarenakan minimnya pengetahuan dan pengarahan akan dunia balap dari lingkungan di sekitarnya. Akses yang terbatas tersebut membuat sebagian memilih jalan pintas, apalagi balap liar biasanya tumbuh dalam komunitas-komunitas, sehingga nampak keren buat yang ingin eksis di lingkungannya.
Merespon hal tersebut, Yamaha Cup Race berusaha memposisikan diri sebagai wadah bagi potensi-potensi muda tersebut. “Yamaha Cup Race juga mengusung program CSR yang mana hal ini sebagai wadah menampung dan memberikan kesempatan para penggemar balap untuk unjuk diri. Yamaha Cup Race juga bertujuan untuk mengurangi kegiatan balap liar yang selama ini ada. Balapan yang benar ada lintasan sirkuit, bukan di jalanan” ungkap Ari Wibisono Manager Yamaha Racing. Perkataan Ari terbukti saat sejumlah seri Yamaha Cup Race lalu membuka kelas khusus pembalap liar dan memberikan potongan uang pendaftaran.
Untuk itu kami mengajak anak muda yang memiliki keinginan untuk berkecimpung di
arena balap agar berusaha mendapatkan informasi yang tepat, berlatih dengan tekun, bergabung dengan team berpengalaman dan mengikuti ajang balap bergengsi, semacam Yamaha Cup Race, event balap bangkotan dan sarat pengalaman di Indonesia. Saat ini, Yamaha Cup Race bahkan sudah membuka pendaftaran secara online
http://www.yamaharacingindonesia.co.id/pendaftaran/pendaftaran-balap/
Langganan:
Postingan (Atom)

